Situs Kampung KB dan Pendidikan Indonesia

Selamat datang di situs Kampung KB "Tumbuh Jaya" Desa Tumbuh Mulia Kecamatan Suralaga Lombok Timur NTB. Situs ini berisi 8 pokja Kampung KB seperti Pokja Pendidikan, Keagamaan, Sosial dan Budaya, Ekonomi, Kesehatan Refreduksi, Lingkungan, Perlindungan dan Kasih Sayang. Selain itu juga, berisi tentang administrasi pendidikan seperti Ruang Guru, Materi K13, Aplikasi K13, Program Kerja, Soal Ujian, Artikel Islam, Hiburan dan Katagori yang meliputi pertanian, peternakan dan perikanan. Semoga situs ini bermanfaat dalam meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat menuju Indonesia sejahtera.
  • Arsip Kampung KB Tumbuh Jaya

    Photo Bersama Pengurus Kampung KB Tumbuh Jaya

  • Lomba Kampung BK

    Dokumentasi penyerahan hadiah juara 1 lomba Kampung KB sekabupaten Lombok Timur di Joben Desa Pesanggarahan kecamatan Montong Gading (Sabtu, 22 Juni 2019).

  • Dokumentasi penyerahan hadiah juara 1 lomba Kampung KB sekabupaten Lombok Timur di Joben Desa Pesanggarahan kecamatan Montong Gading (Sabtu, 22 Juni 2019).

Cara Membuat Telur Balado (Telur Opor) Yang Lezat Ala Kampung KB "Tumbuh Jaya".


Selamat datang warga Tumbuh Mulia, melalui program kampung KB dibidang ekonomi, kami berbagi resep cara membuat telur balado (Telur opor) yang lezat ala Kampung KB "Tumbuh Jaya".

Telur balado ini bahasa sasaknya dikenal dengan sebutan telur opor. Menu ini biasanya disajikan saat zikiran, perasmanan, menu harian keluarga dan lauk pada nasi bungkus (kaputan).

Selain itu, banyak juga kita jumpai di tempat-tempat umum seperti di warung makan, arema, restoran bahkan juga dipasar. Menu ini banyak digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua.

Menu ini sangat laris bila dijual, hasilnya sangat menguntungkan dan menjanjikan. Cara membuat menu ini pun sangat praktis dan mudah. Sehingga tak jarang menu ini menjadi menu andalan waktu sarapan dan makan siang. Untuk lebih jelasnya, berikut resep cara membuat telur balado (Telur opor) yang lezat ala Kampung KB "Tumbuh Jaya". Selamat membaca dan mempraktikannya di rumah.

Cara Membuat Telur Balado (Telur Opor) Yang Lezat Ala Kampung KB "Tumbuh Jaya".

A. Bahan-bahan
  • 4 biji telur ayam
  • 5 lembar daun jeruk
  • 2 lembar daun salam
  • 1 ruas lengkuas, geprek
  • Daun bawang
B. Bumbu halus
  • 6 siung bawang merah
  • 2 siung bawang putih
  • 2 biji cabe merah besar
  • 4 biji cabe rawit
  • 1 biji tomat ukuran besar
C. Cara-cara membuatnya
  1. Rebus telur. Kemudian kupas kulit nya.
  2. Tumis bumbu halus beserta lengkuas sampai harum. Kemudian masukkan daun jeruk dan daun salam. Aduk2
  3. Tambahkan air sedikit aja. Kemudian tambahkan garam, gula dan penyedap rasa.
  4. Tes rasa. Jika sudah pas masukkan telur ayam. Tusuk2 telur nya menggunakan garpu agar bumbu meresap ke dalam. Kemudian tambahkan potongan daun bawang.
  5. Aduk secara perlahan agar telur nya tidak hancur. Jika air menyusut, matikan api.
      Masakan ini disajikan dengan nasi hangat bersama kerupuk. Semoga bermanfaat.
      Share:

      Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Syariat Islam.


      Selamat datang di blog Kampung KB, pada kesempatan ini kami bidang keagamaan berbagi artikel tentang Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Syariat Islam.

      Di dusun Dasan Tumbu, desa Tumbuh Mulia, musibah itu tidak kenal masa, hampir setiap minggu bahkan setiap bulan pasti ada musibah berupa kematian. Tak jarang setiap warga harus mengerjakan salah satu kewajibannya sebagai muslim atas jenazah yaitu menandikan dan mensholatkannya. 

      Oleh karena itu, setiap orang harus bisa melaksanakan kewajiban tersebut dengan cara mempelajari dan mengamalkan Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Syariat Islam.

      Dalam Islam disebutkan bahwa ada empat kewajiban yang mesti dilakukan oleh orang yang masih hidup terhadap orang yang meninggal atau mayit. Keempat kewajiban itu adalah memandikan, mengafani, menshalati, dan mengubur.

      Memandikan mayit adalah proses yang pertama kali dilakukan dalam memulasara jenazah sebagai tindakan memuliakan dan membersihkan tubuh si mayit. Tentunya ada aturan dan tata cara tertentu yang mesti dilakukan dalam memandikan mayit.

      Para ulama menyebutkan ada dua cara yang bisa dilakukan dalam memandikan mayit, yakni cara minimal dan cara sempurna.

      Pertama, yakni cara minimal memandikan jenazah yang sudah memenuhi makna mandi dan cukup untuk memenuhi kewajiban terhadap jenazah.

      Secara singkat Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami menuturkan dalam kitabnya Safînatun Najâh (Beirut: Darul Minhaj, 2009):
      أقل الغسل تعميم بدنه بالماء

      Artinya: “Paling sedikit memandikan mayit adalah dengan meratakan air ke seluruh anggota badan.”

      Sedikit lebih rinci secara teknis cara ini dijelaskan oleh Dr. Musthafa Al-Khin dalam kitab al-Fiqhul Manhaji (Damaskus: Darul Qalam, 2013) dengan menghilangkan najis yang ada di tubuh mayit kemudian menyiramkan air secara merata ke tubuhnya. Bila cara ini telah dilakukan dengan benar dan baik maka mayit bisa dikatakan telah dimandikan dan gugurlah kewajiban orang yang hidup terhadap si mayit.

      Kedua, yakni cara memandikan jenazah secara sempurna sesuai dengan sunnah.

      Syekh Salim menuturkan cara kedua ini dengan menjelaskan:

      وأكمله ان يغسل سوأتيه وأن يزيل القذر من أنفه وأن يوضأه وأن يدلك بدنه بالسدر وأن يصب الماء عليه ثلاثا

      Artinya: “Dan sempurnanya memandikan mayit adalah membasuh kedua pantatnya, menghilangkan kotoran dari hidungnya, mewudlukannya, menggosok badannya dengan daun bidara, dan mengguyunya dengan air sebanyak tiga kali.”

      Secara teknis Dr. Musthafa Al-Khin menjelaskan cara kedua ini sebagai berikut:

      1. Mayit diletakkan di tempat yang sepi di atas tempat yang tinggi seperti papan kayu atau lainnya dan ditutup auratnya dengan kain. Pada masa sekarang ini di Indonesia sudah ada alat semacan keranda untuk memandikan jenazah yang terbuat dari bahan uluminium atau stenlis.

      2. Orang yang memandikan memposisikan jenazah duduk sedikit miring ke belakang dengan ditopang tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengurut bagian perut jenazah dengan penekanan agar apa yang ada di dalamnya keluar. Lalu yang memandikan membungkus tangan kirinya dengan kain atau sarung tangan dan membasuh lubang depan dan belakang si mayit. Kemudian membersihkan mulut dan hidungnya lalu mewudlukannya sebagaimana wudlunya orang hidup.

      3. Membasuh kepala dan muka si mayit dengan menggunakan sabun atau lainnya dan menyisir rambutnya bila memiliki rambut. Bila ada rambut yang tercabut maka dikembalikan lagi ke asalnya untuk ikut dikuburkan.

      4. Membasuh seluruh sisi kanan tubuh dari yang dekat dengan wajah, kemudian berpindah membasuh sisi kiri badan juga dari yang dekat dengan wajah. Kemudian membasuh bagian sisi kanan dari yang dekat dengan tengkuk, lalu berpindah membasuh bagian sisi kiri juga dari yang dekat dengan tengkuk. Dengan cara itu semua orang yang memandikan meratakan air ke seluruh tubuh si mayit. Ini baru dihitung satu kali basuhan. Disunahkan mengulangi dua kali lagi sebagaimana basuhan tersebut sehingga sempurna tiga kali basuhan. Disunahkan pula mencampur sedikit kapur barus di akhir basuhan bila si mayit bukan orang yang sedang ihram.

      Syekh Nawawi dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ menuturkan (Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008), disunahkan basuhan pertama dengan daun bidara, basuhan kedua menghilangkan daun bidara tersebut, dan basuhan ketiga dengan air bersih yang diberi sedikit kapur barus yang sekiranya tidak sampai merubah air. Ketiga basuhan ini dianggap sebagai satu kali basuhan dan disunahkan mengulanginya dua kali lagi seperti basuhan-basuhan tersebut.

      Berikutnya siapakah yang boleh memandikan mayit?

      Masih menurut Dr. Musthafa Al-Khin bahwa mayit laki-laki harus dimandikan oleh orang laki-laki dan sebaliknya mayit perempuan harus dimandikan oleh orang perempuan. Hanya saja seorang laki-laki boleh memandikan istrinya dan seorang perempuan boleh memandikan suaminya.

      Satu hal yang juga perlu diketahui, bahwa disyariatkannya memandikan mayit adalah dalam rangka memuliakan dan membersihkannya. Ini wajib dilakukan kepada setiap mayit Muslim kecuali orang yang mati syahid di dalam peperangan. Wallahu a’lam.  (Yazid Muttaqin)

      Demikian, semoga bermanfaat.
      Share:

      Tata Cara Sholat Jenazah Dan Bacaannya Sesuai Dengan Syariat Islam.


      Selamat datang di blog Kampung KB, pada kesempatan ini kami bidang keagamaan berbagi artikel tentang Tata Cara Sholat Jenazah Dan Bacaannya Sesuai Dengan Syariat Islam.

      Dalam kehidupan bermasyarakat, kita sebagai muslim sering melaksanakan sholat jenazah. Apakah sholat jenazah kita sudah benar atau salah sesuai ajaran Islam? Oleh karena itu, pada kesempatan ini kami berbagi Tata Cara Sholat Jenazah Dan Bacaannya Sesuai Dengan Syariat Islam.

      Tata Cara Sholat Jenazah Dan Bacaannya Sesuai Dengan Syariat Islam.

      Pelaksanaan sholat jenazah berbeda dengan sholat 5 waktu yaitu sholat jenazah tidak perlu ruku’, iktidal, sujud, atau tahiyyat. Tetapi, ia hanya disempurnakan dengan 4 takbir dan salam (semasa berdiri).


      Berikut ini tata cara sholat jenazah sesuai dengan urutannya:

      1. Berdiri tegak, takbiratul ihram sambil berniat, lalu baca Surat Al Fatihah.

      Posisi berdiri jika mayit pria yaitu  pada kepala sedangkan mayit wanita yaitu pada perut.

      a. Lafadz niat sholat jenazah (sebagai makmum) untuk jenazah laki-laki.

      اُصَلِّى عَلَى هَذَاالْمَيِّتِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

      (Ushollii ‘alaa haadzal mayyiti arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa)

      Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

      b. Lafadz niat sholat jenazah (sebagai makmum) untuk jenazah perempuan.

      اُصَلِّى عَلَى هَذِهِ الْمَيِّتَةِ اَرْبَعَ تَكْبِرَاتٍ فَرْضَ الْكِفَايَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى

      (Ushollii ‘alaa haadzihill mayyitati arba’a takbirootin fardhol kifaayati ma’muuman lillaahi ta’aalaa)

      Artinya: Saya niat sholat atas mayit ini empat kali takbir fardhu kifayah, sebagai makmum karena Allah Ta’ala.

      Setelah takbiratul ihram, tangan diletakkan di atas pusar sebagaimana sholat pada umumnya, lalu membaca surat Al Fatihah.

      2. Takbir kedua lalu membaca sholawat.
      Sambil mengangkat tangan setinggi telinga atau sejajar bahu, lalu tangan kembali diletakkan di atas pusar. Setelah itu membaca sholawat Nabi.

      Sholawat Nabi ini banyak bentuknya, yang paling afdhal adalah sholawat Ibrahimiyah.

      Sholawat itu adalah yang pendek dan ada pula yang panjang.

      Sholawat yang pendek ialah:


      “Ya Allah, berikanlah selawat atas Nabi Muhammad dan ke atas keluarga baginda”

      Selawat yang panjang dan sempurna dan yang lebih afdal ialah Selawat Ibrahimiah seperti berikut:


      “Ya Allah, berikanlah selawat atas Nabi dan atas Keluarganya, sebagaimana Engkau pernah memberi rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan limpahilah berkat atas Nabi Muhammad dan para keluarganya, sebagaimana Engkau pernah memberikan berkat kepada Nabi Ibrahim dan para keluarganya, di seluruh alam ini, sesungguhnya Engkau Yang Terpuji lagi Yang Maha Mulia”

      3. Takbir ketiga lalu berdoa untuk jenazah
      Sambil mengangkat tangan setinggi telinga atau sejajar bahu, lalu tangan kembali diletakkan di atas pusar. Setelah itu membaca doa untuk jenazah.

      Mendoakan jenazah ini dilakukan selepas takbir yang ketiga.

      Doa yang pendek jika jenazah itu lelaki ialah:

      Doa yang pendek jika jenazah itu perempuan ialah:


      Maksud: “Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah dosa dan
      kesalahannya”

      Doa yang panjang dan sempurna serta afdal ialah seperti berikut.

      Bagi jenazah lelaki:


      Bagi jenazah perempuan:


      Maksud: “Ya Allah ampunilah dia, kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah dia dengan air salji dan embun. Bersihkanlah dia daripada segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih daripada segala kotoran, dan gantikanlah baginya rumah yang lebih baik daripada rumah yang dahulu, dan gantikanlah baginya ahli keluarga yang lebih baik daripada ahli keluarganya yang dahulu, dan peliharalah (hindarkanlah) dia daripada seksa kubur, dan azab api neraka.”


      Jika jenazah itu kanak-kanak yang belum baligh, hendaklah ditambah doa tersebut di atas dengan doa yang di bawah.

      Sekurang-kurangnya yaitu:


      “Ya Allah, jadikanlah kematiannya pahala yang didahulukan, simpanan, dan pahala bagi kami.”

      Doa yang panjang dan sempurna serta afdal yaitu:


      “Ya Allah, jadikanlah dia sebagai simpanan pendahuluan bagi ayah bondanya dan sebagai taruhan (amanah), kebajikan yang didahulukan, dan menjadi pengajaran serta syafaat bagi orang tuanya. Dan beratkanlah timbangan kedua ibu bapanya, serta berikanlah kesabaran dalam hati kedua ibu.”

      4. Takbir Ke-4 Dikuti Do'a
      Selepas membaca doa ditakbir yang ketiga, hendaklah diiringi dengan takbir yang keempat pula dan membaca doa.

      Doa ringkas bagi jenazah lelaki yaitu:

      Doa ringkas bagi jenazah perempuan ialah:


      Maksudnya: “Ya Allah, janganlah kiranya pahalanya tidak sampai kepada kami (jangan engkau meluputkan kami akan pahalanya) dan janganlah engkau memberi fitnah sepeninggalannya, dan ampunilah kami dan dia.”

      Doa yang panjang dan sempurna serta afdal ialah seperti berikut:

      Bagi jenazah lelaki:

      Bagi jenazah perempuan:


      5. Salam
      Memberi salam seperti dalam solat fardhu iaitu memalingkan muka ke kanan dan kiri, cuma dalam keadaan berdiri.

      6. Do'a
      Setelah selesai salam dan berakhirnya Solat Jenazah tadi, afdalnya diikuti dengan membaca doa pula.

      Jika jenazah itu lelaki doanya yaitu:


      Jika jenazah itu perempuan, doanya ialah:


      Artinya; “Segala Puji bagi Allah, Tuhan Pentadbir seluruh alam. Rahmat dan kesejahteraan ke atas junjungan kami Nabi Muhammad ﷺ, penghulu semua Rasul dan juga ke atas keluarga dan para sahabat Baginda seluruhnya. Ya Allah! Jadikanlah kubur si mati ini sebagai sebuah taman daripada taman-taman syurga.

      Ya Allah! Dikaulah Tuhan bagi si mati, Dikaulah yang menjadikannya dan Dikaulah juga yang menunjukkannya kepada agama Islam. Dikaulah yang juga yang mencabut nyawanya, Dikau lebih mengetahui perkara-perkara zahir dan batinnya. Kami semua hadir atas tujuan memohon syafaat kepada-Mu untuk si mati.

      Ya Allah! Ampunkanlah kesalahan kami dan segala kesalahan yang telah dilakukan oleh si mati, limpahkanlah jua Kurnia-Mu wahai Allah, Tuhan Sebaik-baik Pengurnia rahmat!Selawat Allah dan kesejateraan ke atas Penghulu kami Nabi Muhammad SAW dan ke atas keluarganya serta para sahabat Baginda seluruhnya. Segala Puji bagi Allah, Tuhan Pentadbir seluruh alam.”

      Jika jenazah itu kanak-kanak doanya ialah:




      Demikian, semoga bermanfaat.
      Share:

      Contoh Khutbah Terbaru Bulan Sya'ban_Sejarah dan amalan-amalan di bulan sya'ban


      Contoh Khutbah Terbaru Bulan Sya'ban_Selamat datang para bloger khatib, semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT untuk  menyampaikan tausiah atau nasehat kepada saudara seiman. 

      Bagi para khatib yang membutuhkan konsep khutbah terbaru, singkat dan lugas maka  di blog ini  kami menyediakan  koleksi khutbah tahunan sesuai dengan situasi dan kondisi di masyarakat. 

      Salah satunya yaitu "Sejarah dan amalan-amalan di bulan sya'ban". Teks khutbah ini merupakan teks yang sudah saya baca di Masjid AlHidayah. 



      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah
             
      Pada hari jum’at yang barokah ini, marilah kita selalu bersyukur dan meningkatkan keimanan  dan ketakwaan kepada Allah SWT atas segala nikmatNya dengan cara melaksanakan segala perintahNya dan meninggalkan segala laranganNya. Dengan demikian, semoga kita tergolong orang-orang yang bertakwa, selamat, hidup bahagia didunia dan di akhirat, Aaamiin ya mujibassailin.

      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah


      Pada hari ini kita telah berada di Jum’at ke-2 pada bulan sya'ban, tepatnya tanggal 12 Mei 2017 M/15 sya'ban 1438 H. Oleh karena itu, tema khutbah kita kali ini yaitu “Sejarah dan amalan-amalan di bulan sya'ban.” 


      Bulan sya’ban adalah bulan kedelapan dalam penanggalan Hijriyah. Keistimewaan bulan ini terletak pada pertengahannya yang biasanya disebut Nishfu Sya’ban. Secara harfiyah istilah Nisfu Sya’ban berarti hari atau malam pertengahan bulan Sya’ban tepatnya tanggal 15 Sya’ban.


      Kata “sya’ban” adalah istilah bahasa Arab yang berasal dari kata syi’ab yang artinya jalan di atas gunung. Islam kemudian memanfaatkan bulan Sya’ban sebagai waktu untuk menemukan banyak jalan, demi mencapai kebaikan. Karena bulan Sya’ban terletak di antara bulan Rajab dan bulan Ramadhan, karena diapit oleh dua bulan mulia ini, maka Sya’ban seringkali dilalaikan dan dilupakan oleh umat manusia. Sebagaimana sabda Rasullah SAW:


      حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُوْرِ مَاتَصُوْمُ مِنْ شَعْبَان قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِيْنَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ


      Artinya : Usamah bin Zaid berkata kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa di satu bulan melebihi puasamu di bulan Sya'ban." Rasulullah menjawab, "Ini adalah bulan yang dilalaikan oleh kebanyakan manusia, yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. Karena itu aku ingin saat amalku diangkat kepada Allah, aku sedang berpuasa." (HR. An-Nasa'i. Al Albani berkata "hasan")

      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah

      Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan pengakuan Aisyah, bahwa Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa (sunnah) lebih banyak kecuali pada bulan Sya’ban. Periwayatan ini kemudian mendasari kemuliaan bulan Sya’ban di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Oleh karena itu,  pada bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk berpuasa sunah khususnya pada hari nispu sya’ban in. Selain itu,  memperbanyak berdzikir dan meminta ampunan serta pertolongan dari Allah SWT. Pada bulan ini, Allah SWT menurunkan berbagai kebaikan berupa syafaat (pertolongan), maghfirah (ampunan), dan itqun min adzabin naar (pembebasan dari siksaan api neraka).

      Dari sinilah umat Islam, berusaha memuliakan bulan Sya’ban dengan mengadakan shodaqoh dan menjalin silaturrahim. Umat Islam di Nusantara biasanya menyambut keistimewaan bulan Sya’ban dengan mempererat silaturrahim melalui pengiriman oleh-oleh yang berupa makanan kepada para kerabat, sanak famili dan kolega kerja mereka. Sehingga terciptalah tradisi saling mengirim parcel di antara umat Islam. Oleh karena itu, di kalangan umat Islam Nusantara, bulan Sya’ban sering dinamakan sebagai bulan Ruwah, maka tradisi saling kirim parcel makanan ini dinamakan sebagai Ruwahan. Tradisi ini menyimbolkan persaudaraan dan mempererat ikatan silaturrahim kepada sesama Muslim.

      Oleh karena itu, pada bulan Sya’ban ini memiliki berbagai hal yang dapat memperkuat keimanan umat Islam, baik sebagai individu maupun dalam ruang lingkup kemasyarakatan. Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan termulia dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah SWT karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.

      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah

      Imam Ghazali mengistilahkan malam Nisfu Sya’ban sebagai malam yang penuh dengan syafaat (pertolongan). Menurutnya pada malam ke-13 bulan Sya’ban Allah SWT memberikan seperti tiga syafaat kepada hambanya. Sedangkan pada malam ke-14, seluruh syafaat itu diberikan secara penuh. Dengan demikian, pada malam ke-15, umat Islam dapat memiliki banyak sekali kebaikan sebagai penutup catatan amalnya selama satu tahun. Karepa pada malam ke-15 bulan Sya’ban inilah, catatan perbuatan manusia penghuni bumi akan dinaikkan ke hadapan Allah SWT.

      Para ulama menyatakan bahwa Nisfu Sya’ban juga dinamakan sebagai malam pengampunan atau malam maghfirah, karena pada malam itu Allah SWT menurunkan pengampunan kepada seluruh penduduk bumi, terutama kepada hamba-Nya yang saleh. Hal ini sesuai dengan hadist Rasulullah SAW:
      شعبان شهرى ورمضان شهر الله وشعبان المطهر ورمضان المكفر

      Artinya: Sya’ban adalah bulanku, Ramadhan adalah bulan Allah. Sya’ban adalah bulan yang menyucikan dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa” (HR. Imam al-Dailami).

      Kaum Muslimin meyakini bahwa pada malam ini, dua malaikat pencatat amalan keseharian manusia, yakni Raqib dan Atib, menyerahkan catatan amalan manusia kepada Allah SWT, dan pada malam itu pula buku catatan-catatan amal yang digunakan setiap tahun diganti dengan yang baru.

      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah

      Adapun keutamaan-keutamaan Bulan Sya’ban antara lain:

      1. Pada bulan Sya’ban  Allah SWT memerintahkan perubahan kiblat dari Baitul Muqaddis ke Baitullah Ka'bah bertepatan hari Selasa tanggal 15 Sya’ban.

      2. Pada bulan Sya’ban Allah SWT menurunkan ayat perintah bershalawat kepada Rasulullah SAW, Sebagaimana firman Allah SWT:



      إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَاالَّذِينَ آمَنُواصَلُّواعَلَيْهِ وَسَلِّمُواتَسْلِيمًا
            
      Artinya:“Sesungguhnya Allah SWT dan malaikat-malaikat Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”. (QS. Al-Ahzab : 56).

      3. Diangkatnya segala amal manusia kepada Allah SWT.

      وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

      Artinya:Di bulan inilah amal perbuatan manusia diangkat kepada Rabb semesta alam. (HR. An-Nasa'I dan Ahmad. "Hasan" menurut Al-Albani)


            
      4. Pada pertengahan bulan sya'ban atau yang dikenal dengan istilah Nisfu Sya'ban. Allah SWT mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda:
      إِنَّ اللهُ لَيَطَّلِعُ فِيْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانِ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيْعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْمُشَاحِنٍ


      Artinya: Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani).

      5.  Sya'ban adalah bulan Rasullah.
      رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي


      Artinya :Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. (HR. Dailami).

      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah

      Lalu apa amal di bulan Sya'ban yang dicontohkan Rasulullah SAW? Ini penting untuk kita ketahui dan amalkan. Sebab selain menghidupkan sunnah, mengikuti contoh dan teladan dari Rasulullah SAW adalah bukti cinta kita kepada Allah SWT.
      قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
      Artinya :
      Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali Imran :31).

      Adapun amalan-amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW antara lain:
      1. Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban yang pertama,
      2. Melunasi hutang-hutang puasa, khususnya bagi wanita yang masih belum selesai mengqadha' puasa Ramadhan sebelumnya.
      3. Memperbanyak ibadah dan amal kebajikan secara umum seperti shalat rawatib, shalat sunnah tasbih, shalat sunnat awwabin,  qiyamullail, tilawah Al-Qur'an, bershadaqah, dan lain-lain.
      4. Membaca surat Yasin sebanyak 3x setelah shalat Maghrib dan berdoa setelahnya.
        Pada bacaan kali pertama diniatkan supaya Allah SWT memberikan umur yang panjang beserta diberikan taufik untuk taat. Pada bacaan kali kedua diniatkan supaya dijauhkan dari segala bala dan diberikan rezeki halal yang banyak. Dan pada bacaan kali ketiga diniatkan tidak tergantung hidupnya kepada orang lain dan diberikan husnul-khatimah. Setiap kali selesai membaca surat Yasin dilanjutkan dengan membaca doa nishfu Sya’ban. Alhamdulillah, amalan nomor sudah kita laksanakan tadi malam di masjid, dan mushalla mushalla.
      5. Membaca kalimat tahlil
      6. Membaca surat al-Dukhan.
        Imam al-Saraji menyebutkan bahwa barangsiapa membaca awal surat al-Dukhan hingga ayat ke-8 dari awal bulan Sya’ban hingga 15 Sya’ban sebanyak 30x, kemudian ia berzikir dan bershalawat kepada Nabi SAW dan berdoa dengan apa yang ia kehendaki, niscaya doanya akan dikabulkan dengan segera.
      7. Memperbanyak shalawat.
      Hadirin, Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah

      Dengan demikian, kita sebagai umat Islam semestinya tidak melupakan begitu saja, bahwa bulan sya’ban adalah bulan yang mulia. Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan bulan persiapan untuk memasuki bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan diri sebaik-baiknya dengan mempertebal keimanan dan memanjatkan doa dengan penuh kekhusyukan.
            
      Demikianlah khutbah singkat tentang sya'ban dan kelebihannya, semoga Allah SWT memberikan keberkahan dan melipat gandakan semua amal ibadah kita. Aamiin ya mujibassailin.

      بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْالآيَاتِ وَالذِّّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّى وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَقُلْ رَبِّّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

      Khutbah Kedua

       اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا
      اَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا اَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِنَّ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

      اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ

      رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

       عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ ,وَلَذِكْرُاللهِ أَكْبَرُ وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْن
      Share:

      Contoh Khutbah Terbaru Bulan Syawal Tentang Keutamaan dan nilai historis di dalam bulan Syawal.


      Contoh Khutbah Terbaru Bulan Syawal_Selamat datang para bloger khatib, semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT untuk  menyampaikan tausiah atau nasehat kepada saudara seiman. Bagi para khatib yang membutuhkan konsep khutbah terbaru, singkat dan lugas maka  di blog ini  kami menyediakan  koleksi khutbah tahunan sesuai dengan situasi dan kondisi di masyarakat. Salah satunya yaitu "Keutamaan dan nilai historis di dalam  bulan Syawal 14..H".

      Lihat...Khutbah Pertama


      Para jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

      Pada kesempatan yang barokah ini, marilah kita berusaha meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT dengan ketaqwaan yang sebenar-benarnya yaitu menjalankan semua perintahNya dengan tulus dan iklhas dan menjauhi semua larangan-Nya. Salah satunya dengan cara bersyukur atas berbagai macam nikmatNya yang sangat banyak sehingga tidak ada kemampuan bagi kita untuk menghitungnya. Diantara nikmatNya tersebut yang paling utama dan patut kita syukuri yaitu nikmat iman. Karena dengan iman, kita memiliki kemampuan untuk beribadah dan melaksanakan perintah-perintah Allah, salah satu diantaranya pada hari ini kita melaksanakan ibadah Shalat jumat. 

      Shalawat dan salam, semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan juga kepada seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Semoga kita termasuk pengikutnya yang senantiasa taat dan cinta kepada Allah dan RasulNya dan mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir. Aaamiin ya mujibassailin!

      Para jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

      Alhamdulillah, sekarang ini kita tengah berada di Jum'at kedua pada bulan Syawal 1438 H. Itu artinya 12 hari sudah Ramadhan meninggalkan kita, tapi keberkahan dan kenikmatannya masih terasa hingga sekarang. 

      Syawal adalah bulan kesepuluh dalam penanggalan kalender hijriyah. Kehadiran bulan ini selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Penetapan awal bulan ini menjadi perhatian kaum Muslimin, karena pada tanggal 1 Syawal, umat Islam di seantero jagad merayakan Idul Fitri (hari kemenangan). Secara bahasa syawal berasal dari kata Syala yang  berarti naik atau meninggi (irtafa'a). Karena pada bulan ini,  kedudukan dan derajat kaum Muslimin meninggi di hadapan  Allah SWT karena telah menunaikan ibadah shaum pada bulan Ramadhan. Syawal juga artinya peningkatan. Jadi, bulan syawal adalah bulan peningkatan. Setelah menempuh ujian selama satu bulan, umat Muslim diharapkan bisa mempertahankan nilai-nilai amaliyah yang telah dilakukan pada bulan ramadhan hingga datang Ramadhan selanjutnya maka syawal bermakna  sebagai bulan peningkatan ibadah dan amal saleh. 

      Para jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.
          
      Adapun beberapa keutamaan dan nilai historis di dalam  bulan Syawal ini antara lain:
      1. Di bulan Syawal ini di sunnatkan puasa 6 hari.
      Rasulullah memberikan contoh kepada kita berupa satu amal khusus di bulan ini yaitu puasa Syawal. Ini juga bisa dijadikan ibadah tambahan dalam rangka meningkatkan ketaqwaan kita di bulan Syawal ini. Di dalam kitab Syarh Annawawi ‘ala Shahih Muslim juz 8 halaman 56, dijelaskan perihal puasa sunnah 6 hari di bulan Syawal secara berturut-turut mulai tanggal 2-7 syawal. Adapun keistimewaan puasa sunnat ini yaitu akan diberikan pahala puasa satu tahun. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:

       مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
      Artinya: Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun.
      (HR. Imam Muslim dan Abu Dawud).

      Para  jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

      2. Di bulan Syawal ini di anjurkan beri’tikaf.
      Itikaf merupakan ibadah yang dilakukan dengan cara berdiam diri di dalam masjid yaitu menjalankan sholat lima waktu dan melakukan dzikir serta amalan-amalan sunnah lainnya. Ibaratnya itikaf merupakan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurut bahasa i’tikaf memiliki arti menetapi sesuatu dan menahan diri agar senantiasa tetap berada padanya, baik hal itu berupa kebajikan ataupun keburukan. Sedangkan menurut syara' i’tikaf berarti menetapnya seorang muslim di dalam masjid untuk melaksanakan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT. Adapunmanfaat i’tikaf di antaranya untuk merenungi masa lalu dan memikirkan hal-hal yang akan dilakukan di hari esok, mendatangkan ketenangan, ketentraman dan cahaya yang menerangi hati yang penuh dosa dan mendatangkan berbagai macam kebaikan dari Allah SWT. Amalan-amalan kita akan diangkat dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Orang yang beri’tikaf pada sepuluh hari terkahir akhir bulan Ramadhan akan terbebas dari dosa-dosa karena pada hari-hari itu salah satunya bertepatan dengan lailatul qadar.

      3. Selain dua amalan diatas, di bulan syawal merupakan bulan yang paling baik untuk menikah. Di Indonesia memiliki banyak adat-istiadat, terkadang banyak pasangan yang menikah karena waktu tersebut merupakan waktu terbaik untuk melakukan pernikahan. Dalam Islam di anjurkan untuk menikah saat bulan syawal. Tanggal berapapun dan hari apapun akan menjadi sesuatu kebaikan jika dilakukan untuk menikah. Hal ini juga sebagai sunnah rasul. Dimana Rasullah menikah di bulan syawal. Seperti yang dikisahkan dalam hadis muslim dari istri rasul Aisyah RA. “Rasulullah SAW menikahiku saat bulan syawal dan mengadakan malam pertama dengan aku di bulan syawal. Manakah istri beliau yang lebih mendapatkan perhatian selain aku?,” (HR. Muslim, An Nasa’i).

      Para jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

      4. Bulan Syawal adalah bulan perjuangan dan peningkatan.
      Dalam sejarah  Islam, banyak sekali peperangan yang terjadi seperti Perang Uhud terjadi tanggal 17 Syawal  3 H, perang khandaq (parit) terjadi tanggal 18 Syawal 5 H, Perang Hunain terjadi tanggal 6 Syawal 8 H, dll. Berkat perjuangan yang luar biasa dan persatuan kaum muslimin maka Allah menghancurkan kaum kapir. 

      Itulah contoh betapa bulan Syawal tidak sepantasnya membuat ibadah dan kualitas diri kita menurun. Justru seharusnya, sesuai dengan makna syawal yaitu peningkatan maka kita harus meningkatkan ibadah dengan istiqamah atau terus-menerus walaupun sedikit karena itulah yang paling dicintai oleh Allah SWT. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW:
      إِنَّ أَحَبَّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ مَا دَامَ وَإِنْ قَلَّ

      Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim).

      Para jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.

      5. Halal bi halal/silaturrahmi.
      Halal bihalal merupakan kegiatan silaturahmi atau silaturahim dan saling berma’afan. Saling memaafkan dan menyambung tali silaturrahmi merupakan bagian dari risalah Islam dan tidak terbatas saat Idul Fitri. Sebagaimana firman Allah SWT (Lihat... dalam QS. Al-A'raf ayat199).

      Para  jama’ah Sholat Jum’at Rahimakumullah.
      Demikianlah khutbah singkat yang saya sampaikan pada kesempatan ini, sebagai penutup mari kita jadikan bulan syawal ini sebagi bulan peningkatan amal ibadah dengan melaksakan amal-amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah secara istiqomah seperti puasa sunnat 6 hari setelah ramadhan, beri’tikaf di Masjid, menikah bagi yang belum, bersilaturrahmi dan saling berma’afan. Akhirnya, mari kita berdo’a kepada Allah SWT semoga diberikan kekuatan di bulan syawal ini untuk meningkatkan amal ibadah yang lebih baik lagi sehingga menjadi hambaNya yang muttaqin. Aaamin ya mujibassailin..!

      بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

      Lihat...Khutbah Kedua
      Share:

      Amalan-amalan di hari jum'at yang sering dilakukan oleh Rasullah SAW.


      Selamat datang di blog Kampung KB, pada kesempatan ini kami bidang keagamaan berbagi artikel tentang Amalan-amalan di hari jum'at yang sering dilakukan oleh Rasullah SAW.

      Hari jum’at seringkali kita sebut sebagai hari pendek. Di mana biasanya kebanyakan sekolah atau kantor memulangkan siswa atau karyawannya lebih awal karena ada ibadah khusus di hari jum’at yang merupakan wajib bagi kaum laki-laki yaitu shalat jum’at.

      Namun, banyak di antara kita yang mungkin masih belum tahu betapa istimewanya hari jum’at bagi kaum muslim, karena banyak amalan-amalan yang istimewa dan akan mendatangkan pahala yang besar serta keberkahan dari Allah jika dilakukan.

      Seperti disebutkan dalam sebuah hadits, “Hari terbaik dimana matahari terbit di hari itu adalah hari jum’at. Di hari itu Adam diciptakan, di hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga dan juga dikeluarkan dari surga. Dan kiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari jum’at” (HR. Muslim).

      Lalu apa saja beberapa amalan istimewa di hari jum’at tersebut? Berikut ulasannya.

      1. Bersih Diri
      Membersihkan diri di sini maksudnya bukan berarti bahwa kita harus senantiasa menjaga kebersihan diri atau jasmani pada hari jum’at saja, namun pada hari jum’at ada amalan istimewa yang bisa kita kerjakan untuk mendapat keistimewaan pada hari jum’at, yaitu membersihkan diri dengan total, seperti mandi keramas, memotong kuku, dan sebagainya. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits, “Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari jum’at, maka ia mandi seperti mandi janabah…” (HR. Bukhari dan Muslim).

      Biasanya, bagi kaum adam yang akan menjalankan shalat jum’at, akan mandi keramas dan memakai wangi-wangian, hal tersebut berdasarkan pada hadits, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampunya, lalu memakai minyak rambut atau minyak wangi kemudian berangkat ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang, lalu shalat sesuai dengan kemampuan dirinya, dan ketika imam memulai khutbah, ia diam dan mendengarkannya maka akan diampuni dosanya mulai Jum’at ini sampai Jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

      2. Membaca Surat Al-Kahfi
      Amalan istimewa yang dianjurkan untuk dilakukan pada hari jum’at adalah membaca Surat Al-Kahfi. Hal ini didasarkan pada hadits, “Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa membaca surat Al Kahfi sebagaimana diturunkan, maka ia akan mendapatkan cahaya dari tempat ia berdiri hingga Mekkah. Barangsiapa membaca 10 akhir ayatnya, kemudian keluar Dajjal, maka ia tidak akan dikuasai.

      Barangsiapa yang berwudhu, lalu ia ucapkan: Subhanakallahumma wa bi hamdika laa ilaha illa anta, astagh-firuka wa atuubu ilaik (Maha suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau, aku senantiasa memohon ampun dan bertaubat pada-Mu), maka akan dicatat baginya dikertas dan dicetak sehingga tidak akan luntur hingga hari kiamat.” (HR. Al Hakim (1/564). Syaikh Musthofa Al ‘Adawi mengatakan bahwa hadits ini shahih karena banyak terdapat syawahid (dalil penguat)).

      3. Memperbanyak Berdo’a
      Salah satu waktu mustajab untuk berdo’a atau memohon kepada Allah adalah pada hari jum’at. Dimana hal tersebut juga telah diriwayatkan dalam sebuah hadits, “Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membicarakan mengenai hari Jum’at lalu ia bersabda, Di dalamnya terdapat waktu. Jika seorang muslim berdoa ketika itu, pasti diberikan apa yang ia minta” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya tentang sebentarnya waktu tersebut.” (HR. Bukhari no. 935 dan Muslim no. 852, dari sahabat Abu Hurairah).

      Waktu-waktu mustajab untuk berdo’a memang sebaiknya kita manfaatkan semaksimal mungkin untuk pasrah dan memohon kebaikan pada Allah, karena pada waktu-waktu tersebut, besar kemungkinan bahwa Allah akan mengabulkan do’a-do’a kita dan memberikan keberkahan dalam kehidupan kita.

      4. Memperbanyak Shalawat Nabi
      Bershalawat kepada Rasulullaah SAW adalah sebuah amalan yang bisa kita lakukan kapanpun dan dimanapun kita berada. Namun pada hari jum’at, ada keistimewaan dimana kita dianjurkan untuk memperbanyak bershalawat nabi pada hari itu. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits, “Dari Abu Umamah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Perbanyaklah shalawat kepadaku pada setiap Jum’at. Karena shalawat umatku akan diperlihatkan padaku pada setiap Jum’at.

      Barangsiapa yang banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat denganku pada hari kiamat nanti.” (HR. Baihaqi dalam Sunan Al Kubro. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan ligoirihi -yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya-. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1673).

      5. Membaca Surat Al-Ikhlas, An-Nas, Al-Falaq Masing-Masing 7 Kali
      Selain empat amalan di atas, ada satu lagi perbuatan istimewa yang bisa dilakukan di hari Jumat. Hal tersebut adalah dengan membaca 3 surat penghujung Al-Qur’an yakni An-Nas, Al-Falaq, dan Al-Ikhlas masing-masing 7 kali. Ada pun waktu pelaksanaannya adalah setelah Sholat Jumat, tepatnya boleh dilakukan sesaat setelah salam.

      Ada banyak riwayat tentang keutamaan membaca tiga surat ini di waktu setelah Sholat Jumat. Jadi, diketahui barang siapa melakukan amalan ini, maka Allah akan menjaga diri, keluarga dan harta para pengamalnya. Di riwayat lain ada yang mengatakan Allah akan mengampuni sampai datang hari Jumat lagi.

      Demikianlah beberapa amalan istimewa yang dianjurkan untuk kita lakukan di hari jum’at. Seperti yang dicontohkan dan dianjurkan oleh Rasulullaah SAW. Semoga bermanfaat. 
      Share:

      Contoh Khutbah Terbaru Bulan Muharram Tentang Bermanfaat bagi sesama.


      Selamat datang para bloger khatib, semoga kita semua dalam lindungan Allah SWT untuk  menyampaikan tausiah atau nasehat kepada saudara seiman. Bagi para khatib yang membutuhkan konsep khutbah terbaru, singkat dan lugas maka di blog ini kami menyediakan  koleksi khutbah tahunan sesuai dengan situasi dan kondisi di masyarakat. Salah satunya yaitu "Bermanfaat bagi sesama". 

      Lihat...Khutbah Pertama

      Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

      Suatu hari, sepeninggal Rasulullah SAW, Abu Hurairah r.a. beri’tikaf di masjid Nabawi. Ia tertarik ketika mengetahui ada seseorang di masjid yang sama, duduk bersedih di pojok masjid. Abu Hurairah pun menghampirinya. Menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.

      ”Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah.

      “Apakah kau akan meninggalkan i’tikaf demi menolongku?” tanya orang tersebut terkejut.

      ”Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sungguh berjalannya seseorang diantara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan’”

      Sabda Rasulullah SAW itu diriwayatkan oleh Thabrani & Ibnu Asakir. Dishahihkan Al Albani dalamAs-Silsilah As-Shahihah.

      Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

      Sebagaimana Abu Hurairah, seorang Muslim seharusnya juga memiliki keterpanggilan untuk menolong saudaranya, memiliki jiwa dan semangat memberi manfaat kepada sesama, memiliki karakter Nafi’un li ghairihi.

      Kebaikan seseorang, salah satu indikatornya adalah kemanfaatannya bagi orang lain. Keterpanggilan nuraninya untuk berkontribusi menyelesaikan problem orang lain. Bahkan manusia terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.

      Rasulullah SAW bersabda:  خير الناس أنفعهم للناس

      Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad, Thabrani, Daruqutni. Dishahihkan Al Albani dalam As-Silsilah As-Shahihah)

      Seorang Muslim, setelah ia membingkai kehidupannya dengan misi ibadah kepada Allah semata, sebagaimana petunjuk Allah dalam surat Adz Dzariyat ayat 56, maka orientasi hidupnya adalah memberikan manfaat kepada orang lain, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, nafi’un li ghairihi. Karenanya, Hasan Al Banna memasukkan nafi’un li ghairihi ini sebagai salah satu karakter, sifat, muwashafat, yang harus ada pada diri seorang Muslim.

      Siapapun Muslim itu, di manapun ia berada, apapun profesinya, ia memiliki orientasi untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Seorang Muslim bukanlah manusia egois yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Ia juga peduli dengan orang lain dan selalu berusaha memberikan manfaat kepada orang lain.

      Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seharusnya setiap persendian manusia mengeluarkan sedekah setiap harinya. Dan ternyata yang dimaksud dengan sedekah itu adalah kebaikan, utamanya kebaikan dan kemanfaatan kepada sesama.

      Rasulullah SAW bersabda:

      كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ ، يَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَيُعِينُ الرَّجُلَ عَلَى دَابَّتِهِ ، فَيَحْمِلُ عَلَيْهَا ، أَوْ يَرْفَعُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَكُلُّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَيُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ

      Setiap persendian manusia diwajibkan untuk bersedekah setiap harinya mulai matahari terbit. Berbuat adil antara dua orang adalah sedekah. Menolong seseorang naik ke atas kendaraannya atau mengangkat barang-barangnya ke atas kendaraannya adalah sedekah. Berkata yang baik adalah sedekah. Begitu pula setiap langkah berjalan untuk menunaikan shalat adalah sedekah. Serta menyingkirkan suatu rintangan dari jalan adalah sedekah. (HR. Bukhari)

      Demikianlah Muslim. Demikianlah Mukmin. Ia senantiasa terpanggil untuk menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain, nafi’un li ghairihi. Seorang Muslim yang menjadi pedagang atau pebisnis, orientasinya bukanlah sekedar meraup untung sebesar-besarnya, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat kepada orang lain, membantu mereka memperoleh apa yang mereka butuhkan. Dengan demikian, pedagang dan pebisnis Muslim pantang menipu customernya, ia bahkan memberikan yang terbaik kepada mereka, dan pada saat dibutuhkan menjadi konsultan serta memberikan pilihan-pilihan yang lebih baik.

      Seorang Muslim yang menjadi guru, orientasinya bukanlah sekedar mengajar lalu setiap bulan mendapatkan gaji, tetapi orientasinya adalah bagaimana ia memberikan manfaat terbaik kepada peserta didiknya, ia mengasihi mereka seperti mengasihi putranya sendiri, dan ia selalu memikirkan bagaimana cara terbaik dalam melakukan pewarisan ilmu sehingg peserta didiknya lebih cerdas, lebih kompeten dan berkarakter.

      Seorang Muslim yang menjadi dokter, orientasinya adalah bagaimana ia memberikan pelayanan terbaik kepada pasiennya, ia sangat berharap kesembuhan dan kesehatan mereka, melakukan yang terbaik bagi kesembuhan dan kesehatan mereka.

      Jama’ah Sholat jum’at yang dirahmati Allah,

      Kelihatannya, memberikan manfaat kepada orang lain, membantu dan menolong sesama itu membuat waktu kita tersita, harta kita berkurang, tenaga dan pikiran kita terporsir. Namun sesungguhnya, saat kita memberikan manfaat kepada orang lain, pada hakikatnya kita sedang menanam kebaikan untuk diri kita sendiri. Jika kita menolong orang lain, Allah akan menolong kita.

      Allah SWT berfirman: إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ

      Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. 17:7)

      Rasulullah SAW bersabda: مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

      Barangsiapa membantu keperluan saudaranya, maka Allah membantu keperluannya. (Muttafaq ‘alaih)

      Jika kita menolong dan membantu sesama, pertolongan dari Allah bukan sekedar di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika kita memberikan manfaat kepada orang lain, Allah memudahkan kita bukan hanya dalam urusan dunia, tetapi juga pada hari kiamat kelak.

      Rasulullah SAW bersabda:

      مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

      Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan2 dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan2nya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat (HR. Muslim)

      Sidang jum’at yang dirahmati Allah,

      Dengan apa kita memberikan manfaat kepada orang lain? Dalam bentuk apa nafi’un li ghairihi kita wujudkan? Sesungguhnya setiap manusia memiliki banyak potensi untuk itu.

      Pertama, dengan ilmu. Yakni ilmu yang dianugerahkan Allah kepada kita, kita bagikan kepada orang lain. Kita mengajari orang lain, melatih orang lain, dan memberdayakan mereka. Ilmu ini tidak terbatas pada ilmu agama, tetapi juga ilmu dunia baik berupa pengetahuan, keterampilan hidup, serta keahlian dan profesi.

      Kedua, dengan harta. Kita manfaatkan harta yang dianugerahkan Allah untuk membantu sesama. Yang wajib tentu saja adalah dengan zakat ketika harta itu telah mencapai nishab dan haulnya. Setelah zakat ada infaq dan sedekah yang memiliki ruang lebih luas dan tak terbatas.

      Jama’ah Sholat jum’at yang dirahmati Allah,

      Ketiga, dengan waktu dan tenaga. Yakni ketika kita mendengar keluhan orang lain, membantu mereka melakukan sesuatu, membantu menyelesaikan urusan mereka, dan sebagainya.

      Keempat, dengan tutur kata. Yakni perkataan kita yang baik, yang memotivasi, yang menenangkan dan mengajak kepada kebaikan.

      Kelima, dengan sikap kita. Sikap yang paling mudah adalah keramahan kita kepada sesama, serta senyum kita di hadapan orang lain. Sederhana, mudah dilakukan, dan itu termasuk memberikan kemanfaatan kepada orang lain.

      Kelima hal nafi’un li ghairihi itu, jika kita lakukan dengan ikhlas, Allah akan membalasnya dengan kebaikan dan pahala.  
             فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

      Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah-pun, ia akan mendapatkan balasannya (QS. Al Zalzalah:7)

      Demikianlah khutbah singkat yang saya sampaikan pada kesempatan ini, semoga bermanfaat dalam kehidupan kita sehari-hari.

      بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ. وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

      Lihat...Khutbah Kedua
      Share:

      Hari/Tanggal

      ALIH BAHASA

      Daftar Isi